Kisah Persepsi
Beberapa hari yang lalu ana chating dengan seorang teman yang udah sekitar 6 tahun ngak ketemu, Alhamdulillah akhirnya bisa berkomunikasi dan bercerita tentang beberapa hal. Beliau mengajukan beberapa pertanyaan yang menurut ana menarik namun bukan untuk di jawab tapi untuk direnungin, ana sendiri ngak jawab pertanyaannya namun menceritakan kisah ini:
hendra_club: ada seorang bapak dan seorang anak gadisnya yang masih berusia 5 tahun
hendra_club: saat hari libur sang bapak mengajak anak gadisnya untuk jalan-jalan
hendra_club: mereka pergi dengan kendaraan umum
hendra_club: rona wajah ceria sang anak terliat jelas
hendra_club: bahwa si anak tadi sangat senang di ajak jalan2
hendra_club: lalu sang bapak mengendong sang anak saat akan menyeberang
hendra_club: dan saat di tengah perjalanan tiba2 ada mobil yang bergerak cepat tanpa kendali
hendra_club: dan itu dia...
hendra_club: tabrakan tak dapat dihindarkan
hendra_club: darah2 berceceran di jalan
hendra_club: kebahagian berubah menjadi duka
hendra_club: sang bapak selalu menyebut2 putri kecilnya
hendra_club: sementara sang putri terdiam dalam bisu
hendra_club: mobil ambulan berdatangan
hendra_club: dan segera mengevakuasi korban
hendra_club: sang bapak di bawa kerumah sakit terdekat
hendra_club: namun sang anak harus di larikan ke RSCM
hendra_club: dokter bedah otak telah di hubungin
hendra_club: dokter yang memang mengkhususkan dirinya dalam sepesialis bedah otak segera bergegas
hendra_club: dia bergerak dengan propesional dan ketenangan yang luar biasa
hendra_club: sebagai pembuktian beliau lulusan universitas kedokteran yang ternama di luar negeri
hendra_club: kamar operasi sudah di siapkan sedemian rupa
hendra_club: sang dokter dengan tenag duduk di ruangannya menanti pasien yang menuju ke RSCM dengan ambulan
hendra_club: sampai di kamar operasi sang anak tersadar
hendra_club: namun yang keluar adalah kata2 keluah
hendra_club: sakittt...sakittt... bapak ...bapak
hendra_club: lalu dokter bergegas ke ruang tersebut
hendra_club: saat dokter melihat pasien yang mengeluh sang dokter pun berkata dengan lirih
hendra_club: ah anak ku...?
hendra_club: pertanyaannya kok dokter bialng gitu ya ?
Jawaban dari teman ana ini beragam dari beliau bilang Karena dokternya adalah orang yang professional maka dokter ini memberikan empati kepada anak ini agar bisa lebih tenang.
Atau jawaban yang “ngasal” : “wah anak ini punya bapak tiri, so yang pergi tadi ama bapak kandungnya”
[tentu ana bilang bukan itu jawabannya]
Lalu ana menjawab:
hendra_club: dokter tadi ibu si anak
Lalu ana memaparkan dan menyesuaikan dengan pertayaan awal yang beliau lontarkan kepada ana,
hendra_club: dalam pikiran kita ada yang namanya pikiran umum
hendra_club: pikiran yang mengatakan "dokter bedah otak ini laki2"
hendra_club: inilah yang di sebut dengan budaya
hendra_club: namun ternyata itu tidak tepat
hendra_club: kenyataanya dokter adalah ibu si anak
hendra_club: inilah yang di sebut kebenaran hakiki
hendra_club: kalo ngak pecaya kita buktiin ama tes DNA aja
[bertaburanlah emoticons di windows YM kami]
;)) ;)) ;))
