Dialog Hati

Dalam aktifitas Dakwah tentu kita tidak asing lagi dengan kata-kata Ukhuwah Islamiyah, dimana konsep Ukhuwah sudah menjadi penyemangat bahkan energi baru dalam aktifitas kita.

Begitu pula bagi ana pribadi konsep ukhuwah menjadi ruh dalam diri ana, namun dalam realitanya banyak hal yang sedikit lari dari konsep ukhuwah yang kita pahami bersama. Dan ana sadari bahwa keidealan memang sulit terwujud, sudah hampir 11 tahun ana belajar Islam secara intensif dan mengikuti aktifitas-aktifitas dakwah Islam, selama itu pula ana belum merasakan ukhuwah yang seperti konsep yang ana pahami.

Ana masih sering menemukan seorang al akh yang tidak bisa membiayai pendidikannya sementara al akh yang lain tidak merasakannya. Atau ada al akh yang harus berhadapan dengan segala macam cobaan hidup namun al akh yang lain tidak memahaminya. Tuntut-menuntut bicara-membicarai dan lain sebagainya sudah menjadi hiasan dalam kehidupan kita. Jauh sekali dari konsep 4T [ta’aruf, tafahum, ta’awun, dan Takaful]

Namun beberapa minggu belakangan ini ana mendapatkan pengalaman spiritual yang luar biasa, semoga bisa menjadi Ibroh bagi kita semua

Pertama : Beberapa waktu yang lalu ana sedang sakit, sehingga ana tidak bisa keluar rumah dan ana hanya tidur di kamar. Sementara ana punya amanah untuk mengisi Dauroh, karena kondisi tersebut ana lupa menelepon panitia untuk mencari ganti dan mengabarkan kondisi ana. Besoknya ana di telpon oleh teman satu pengajian dengan ana, beliau mengabarkan bahwa kemaren beliau yang mengantikan ana.

Dan beliau juga menyampaikan bahwa malam kemaren beliau bermimpi, bahwa beliau menemukan ana di dalam kamar terbaring karena sakit. Beliau menanyakan prihal itu ke ana. Ana jawab Alhamdulillah tidak apa-apa karena memang sudah agak baikan.

Kedua : Ana pergi pengajian seperti biasa, saat acara rehat ana diskusi dengan teman-teman pengajian tentang problem-problem apa yang dihadapi. Ana tanpa sadar berkata bahwa ana memang di Jakarta mengalami kendala yaitu tidak banyaknya teman bertukar pikiran di Jakarta, karena memang sebelumnya ana di Padang, dan ana berharap teman-teman pengajian mampu menjadi teman bertukar pikiran. Memang ana kurang terbuka dengan mereka karena keterpautan umur yang cukup jauh antara ana dan mereka yaitu sekitar 10 tahunan.

Kondisi HP ana mati saat itu, sesampai di rumah ana coba cas hp dan ternyata ada SMS yang masuk. Ana baca ternyata do’a yang berhubungan dengan ta’liful qulub di kirim oleh Al Akh yang sama dengan peristiwa pertama, pada waktu subuh hari sebelum pengajian.

Ketiga : Dalam pengajian yang biasa ana hadiri sudah menjadi kesepakatan bahwa rekan yang datang belakangan yang membaca do’a. sampai saat ini ana belum pernah datang paling belakangan tentu ana ngak pernah baca do’a. Dan tadi saat ana datang paling awal dan menungu rekan yang lain ana berfikir bahwa ana akan datang terlambat minggu depan karena ana juga ingin membaca do’a.

Saat penutupan Pengajian tiba-tiba al akh yang sama menyuruh ana membaca do’a, ana langsung semangat membacanya tentunya.

Ba’da pengajian saat berjalan menuju pulang ke rumah ana berfikir, kejadian ini yang ketiga bahwa ana seperti berkomunikasi dengan beliau. Beliau seperti tau apa yang ana rasakan. Ust sering berganti teman pengajian juga sering berganti, ana seperti tidak mempercayainya.

Untuk itu ana langsung menghubungi Ust yang berkafa’ah Syar’I yang sedang menuntut ilmu jenjang S3 di Malaysia untuk menjelaskan kejadian-kejadian tadi secara syar’i. dan beliau menjawab dengan Ayat ini:

“Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu
membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu
tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan
hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”[QS Al Anfal 63]


Subhanallah, ternyata kesatuan hati yang menjadi dasar ukhuwah bisa nyata hadir dalam kehidupan ana. Dimana ana sempat berfikir itu adalah idealita dan bukan realitas.